48hour Film Challenge

Angklung Antara Seni Pementasan Serta Perlengkapan

qas1, · Categories: Uncategorized
Angklung

Angklung Bagaikan negara yang banyak hendak adat, menyiratkan kalau Indonesia ialah negeri yang ditempati oleh orang yang dipadati rasa keelokan. Di antara lebih dari 300 etnik yang terdapat, tersebutlah Kaum Sunda yang inovatif alhasil jadi salah satu yang muncul dalam perihal kultur.

Dari merekalah beraneka ragam muka seni terlahir, tercantum Angklung yang semenjak 2010 sudah diklaim UNESCO bagaikan Buatan Agung Peninggalan Adat Lidah serta Nonbendawi Orang. Dengan cara biasa, perlengkapan nada konvensional ini diketahui bagaikan perlengkapan nada multitonal (bersuara dobel) yang bertumbuh dalam warga Sunda di Jawa Barat.

Perlengkapan nada ini dibuat dari tabung- tabung bambu yang mana suara ataupun nadanya diperoleh dari dampak hantaman tabung- tabung itu, dengan metode digoyangkan. bunyi yang diperoleh merupakan suara yang bergerak dalam lapisan 2, 3, hingga 4 bunyi dalam tiap dimensi, bagus besar ataupun kecil.

Di sisi bagaikan perlengkapan nada, Angklung pula menggantikan suatu seni pementasan. Dalam perihal ini. Ialah wujud seni pementasan yang memakai perlengkapan nada buat menyuguhkan tembang-tembang konvensional.

Asal Usul Kemajuan Angklung

Hal asal- usulnya, tidak terdapat petunjuk semenjak bila Angklung ini dipakai. Ada pula kala memandang wujud primitifnya, terdapat asumsi kalau perlengkapan nada konvensional ini sudah dipakai dalam kebudayaan Neolitikum.

Bertumbuh di Nusantara sampai dini penanggalan modern. Perihal ini pula berarti kalau ialah bagian dari relik pra- Hinduisme dalam kultur Nusantara. Dalam sejarahnya, pangkal berbentuk memo terkini ditemui kala merujuk pada era Kerajaan Sunda (era ke- 12 sampai era ke- 16). Dibilang kalau instrumen nada bambu muncul dalam lingkup adat agraris.

Bagi I Ketut Yasa, warga agraris buat usaha menggapai keberhasilannya memakai 2 rute, ialah yang bertabiat logis serta irrasional. (Nada Konvensional Dari Setting Adat Agraris ke Adat Pabrik. IDEA Harian Objektif Seni Pementasan Versi II, 2001).

Rute logis dapat diamati dari gimana warga agraris di Tatar Sunda dalam memasak tanah, membuat alat-alat tolong serta lain serupanya. Ada pula rute irasional, terdapat keyakinan kepada Nyai Sri Pohaci bagaikan ikon Bidadari Antah donatur kehidupan (hirup-hurip).

Banyak orang Baduy, yang dikira bagaikan sisa-sisa Kaum Sunda asli, mempraktikkan perlengkapan nada bambu bagaikan bagian dari ritual membuka penanaman antah. Berikutnya, game perlengkapan nada bambu dengan mengantarkan lagu-lagu bagaikan persembahan kepada Bidadari Sri diiringi dengan pendamping gendang.

Tipe-Tipe Keelokan Angklung

Penyebaran perlengkapan nada ini sedemikian itu membengkak serta terhambur sampai pergi dari kultur Sunda. Perihal ini ikut menghasilkan kedamaian rupanya. Disamping itu, banyaknya alterasi pula diakibatkan oleh daya cipta serta keinginan musikal daerah-daerah dalam lingkup adat Sunda.

Sehubungan dengan ini, biasanya perbandingan berkisar pada alterasi bagan, riasan dan jumlah botol (bunyi). Selanjutnya ini merupakan sebagian tipe Angklung bersumber pada wujud serta area penyebarannya.

Angklung Kanekes

Bertumbuh di area Kanekes (orang Baduy) yang difungsikan bukan sekedar buat hiburan, tetapi jadi bagian dari ritus antah. Umumnya dibunyikan kala warga menanamkan antah di huma (cerang) dengan sebagian ketentuan.

Terdapat yang dibunyikan dengan cara leluasa (dikurulungkeun), ialah di Kajeroan (Baduy Jero), serta terdapat yang dibunyikan dengan ritmis khusus, ialah di Kaluaran (Baduy Luar). Bila diluar penanaman antah, tipe ini cuma bisa dibunyikan sampai era ngubaran kambeh menyembuhkan antah.

Angklung Reyog

Bertumbuh serta dipakai bagaikan pendamping Gaya tari Reyog Ponorogo di Jawa Timur. Salah satu karakteristik khasnya merupakan berbicara keras dengan 2 bunyi dan wujudnya lengkungan rotan yang menarik dengan hiasa benang berjumbai- jumbai corak yang bagus.

Tipe ini pula sanggup menciptakan suara yang khas, ialah klong-klok serta klung-kluk. Tidak hanya bagaikan perlengkapan nada, Angklung ini tadinya diceritakan bagaikan suatu senjata dari kerajaan Bantarangin kala melawan kerajaan Lodaya pada era ke- 9.

Angklung Banyuwangi

Salah satu keelokan khas Banyuwangi di Jawa Timur dengan sebagian tipe pementasan. Terdapat pementasan Angklung Caruk yang mempertemukan 2 golongan buat bersaing dalam memainkan perlengkapan nada ini.

Terdapat pula Memotong yang umumnya difungsikan buat bersiar- siar ataupun menolong piket malam. Tidak hanya itu terdapat pula Angklung Paglak yang dimainkan oleh para orang tani dikala melindungi kebun mereka.

Selainnya terdapat Angklung Blambangan bagaikan improvisasi dari. Caruk dengan dilengkapi instrumen semacam gong serta perlengkapan nada Dambakan.

Angklung Dogdog Lojor

Keelokan ini dapat mengalami di warga Kasepuhan Pancer Pangawinan ataupun Kesatuan Adat Banten Kidul yang terhambur disekitar Gunung Halimun. Walaupun keelokan ini dikenal Dogdog Lojor yang merujuk pada salah satu waditra didalamnya, namun pula dipakai Angklung sebab terdapat kaitannya dengan ritual antah.

Oleh sebab itu, keelokan ini umumnya jadi bagian dari adat- istiadat seren taun. Walaupun sedemikian itu, dalam kemajuannya semenjak tahun 1970- an, keelokan ini pula dipakai buat menyemarakkan kegiatan khitanan serta acara- acara yang lain.

Angklung Gubrag

Salah satu tipe yang dewasa amat berumur yang dapat ditemukan di desa Cipining, kecamatan Cigudeg, Bogor. Umumnya dipakai buat meluhurkan Bidadari Antah dalam aktivitas melak kambeh( menanamkan antah), ngunjal kambeh (mengangkat antah), serta ngadiukeun (menaruh) ke leuit (lumbung).

Dalam mitosnya, Angklung Gubrag mulai terdapat kala sesuatu era desa Cipining hadapi masa masa sulit.

Angklung Badeng

Suatu keelokan yang bertumbuh di Dusun Penjuru, Kecamatan Malabong, Garut. Dulu difungsikan bagaikan hiburan buat kebutuhan ajakan Islam. Namun, terdapat asumsi kalau keelokan ini sudah terdapat saat sebelum era Islam serta dipakai buat acara- acara yang berkaitan dengan penanaman antah.

Bagaikan seni buat ajakan, Badeng bertumbuh semenjak Islam masuk ke wilayah ini pada kisaran era ke- 16 ataupun ke- 17. Keelokan ini mengaitkan 9 buah dengan 2 buah dogdog, 2 buah melambung, dan 1 kecrek.

Angklung Buncis

Serupa perihalnya dengan tipe keelokan perlengkapan nada bambu lain, Buncis awal mulanya pula dipakai dalam ritual yang berkaitan dengan antah.

Keelokan yang dapat ditemukan di Baros (Arjasari, Bandung) ini saat ini cuma difungsikan bagaikan hiburan semata. Paling utama semenjak tahun 1940- an yang dikira bagaikan berakhirnya guna ritual buncis dalam hidmat antah.

Angklung Buncis berlaras salendro dengan lagu bunyi dapat berlaras madenda ataupun degung. Sebutan buncis sendiri berhubungan dengan bacaan lagu yang populer digolongan warga owner keelokan ini.

Angklung Padaeng

Tipe yang kerap dibilang bagaikan Nasional dengan tangga bunyi diatonis. Dibesarkan semenjak tahun 1938 bagaikan pengembangan dari perlengkapan nada bambu Sunda yang berlaras salendro serta pelog.

Inovasi ini dilahirkan oleh Daeng Sutigna, dimana dipakai bunyi bunyi diatonik alhasil cocok dengan sistem nada barat. Kemajuan ini membolehkan perlengkapan nada ini bisa memainkan lagu- lagu global, dan bisa main dalam ensembel dengan perlengkapan nada global yang lain.

Tipe- tipe diatas cumalah beberapa saja bagaikan ilustrasi seni pementasan perlengkapan nada ini. Sedang banyak tipe-tipe lain, semacam Bungko, Ciusul, Badud serta lain serupanya.

Ada pula yang terkini, terdapat Toel yang dilahirkan Kang Yayan Udjo dekat tahun 2008, dan Sri- Murni yang dipelopori Eko Mursito Budi yang spesial dilahirkan buat kebutuhan manusia mesin.